Mengangkat Isu yang Relevan dengan Mahasiswa, Tim PKM-AI Departemen Psikologi Lolos Pendanaan PKM Tahun 2026

Tim PKM-AI (Program Kreativitas Mahasiswa-Artikel Ilmiah) yang digawangi oleh Nabil Abdurrahman, Shinta Oktavia, dan Aditya Warman di bawah bimbingan Ibu Dr. Tuti Rahmi, S.Psi., M.Si., Psikolog., berhasil lolos didanai tahun 2026. Topik penelitian yang diajukan tim ini adalah “Efektivitas Teknik Self Compassion Grounding dalam Meningkatkan Emosi Positif pada Mahasiswa”. Secara sederhana, penelitian ini ditujukan untuk melihat apakah kombinasi teknik grounding dan self-compassion dapat membantu meningkatkan emosi positif pada mahasiswa. “Kami memilih topik ini karena banyak mahasiswa menghadapi tekanan akademik maupun pribadi yang dapat memengaruhi kondisi psikologis mereka”, ungkap Shinta sebagai perwakilan kelompok.

Proses yang dilalui tim selama mengikuti PKM-AI terbilang cukup panjang. “Awalnya kami mencari ide yang menurut kami menarik dan relevan dengan kondisi mahasiswa saat ini. Setelah menemukan topik yang sesuai, kami mulai menyusun kerangka penelitian, mencari referensi, dan berdiskusi dengan dosen pendamping. Selanjutnya kami menyusun desain penelitian, membuat modul intervensi, melakukan pengambilan data, melaksanakan intervensi selama tiga sesi, lalu mengolah dan menganalisis data yang diperoleh. Setelah penelitian selesai, kami menyusun artikel ilmiah untuk diajukan ke PKM-AI”, ungkap Shinta lebih lanjut.

Tim juga mengungkapkan bahwa bagian yang paling menantang justru saat menyusun artikel. Mereka harus benar-benar mengikuti panduan PKM-AI, mulai dari sistematika penulisan, format, hingga hal-hal teknis lainnya. Tidak hanya itu, tim juga cukup sering melakukan revisi karena selalu menemukan bagian yang masih bisa diperbaiki. Selama proses tersebut mereka juga banyak mendapatkan arahan dan masukan dari dosen pendamping. “Prosesnya cukup padat, terutama saat menyusun proposal dan menyesuaikannya dengan panduan PKM. Kami harus berkali-kali membaca pedoman untuk memastikan semuanya sudah sesuai. Selama proses itu ada rasa lelah, ragu, bahkan beberapa kali merasa buntu. Kami sempat berpikir untuk mengunggah hasil yang ada saja, tetapi karena sudah menghabiskan banyak waktu dan tenaga, akhirnya kami memilih untuk terus memperbaiki dan menyempurnakannya. Bagian yang paling berat adalah memeriksa setiap detail dan memastikan tidak ada yang terlewat.

Untungnya, kami berada dalam tim yang saling mendukung. Kami sering berdiskusi dan bertukar pikiran ketika mengalami kesulitan. Karena melihat besarnya usaha yang sudah kami lakukan, tentu kami berharap bisa lolos”, ungkap tim ini.

Kelulusan tim pada PKM-AI ini memberikan rasa senang dan bersyukur bagi setiap anggota yang terlibat. “Jujur, ada rasa tidak menyangka, tetapi di saat yang sama kami juga merasa bahwa hasil tersebut merupakan buah dari perjuangan yang sudah kami lakukan selama ini. Kami masih ingat bagaimana sering membaca ulang panduan, memperbaiki tulisan, berdiskusi sampai larut, dan beberapa kali merasa buntu. Karena itu, ketika pengumuman keluar, rasanya semua usaha yang sudah kami lakukan benar-benar terbayarkan. Momen itu membuat kami semakin percaya bahwa tidak ada usaha yang sia-sia jika dijalani dengan sungguh-sungguh”, tutur tim ini.

Selanjutnya, tim ini juga berharap penelitian ini tidak hanya berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi juga bisa memberikan manfaat, khususnya bagi mahasiswa. Harapannya, teknik self compassion grounding yang mereka kembangkan dapat menjadi salah satu cara sederhana yang membantu mahasiswa meningkatkan emosi positif mereka. Selain itu, mereka juga berharap pengalaman mengikuti PKM ini dapat menjadi bekal untuk terus belajar melakukan penelitian, menulis karya ilmiah, dan bekerja sama dalam tim. Bagi tim ini, PKM bukan hanya tentang lolos atau tidak, tetapi juga tentang proses belajar dan pengalaman yang sangat berharga (rhmhrv).

Related posts

Leave a Comment